A Loss That Changed Everything


Setiap rumah punya tiang penyangga. Bagiku, tiang itu bukan sosok ayah atau ibu, melainkan sosok yang akrab ku panggil ‘Uti’. Secara silsilah beliau adalah kakak dari ayahku. Namun, dalam urusan hati dan peran dirumah, beliau adalah Ibu kedua ku, sosok yang setiap hari selalu menjahit cerita rapuhku. 

Blog ini adalah bagaimana rasanya tentang tiang penyangga itu roboh, dan bagaimana ku belajar berdiri didalam puing-puing kehilangan. 

Pada saat itu memang beliau sudah ku anggap sebagai ibu keduaku dari dulu, karena peran beliau sangat istimewa. Walaupun beliau tidak bisa melalukan aktivitas seperti orang-orang pada umumnya, dikarenakan beliau sakit stroke sudah bertahun tahun, tetapi beliau sangat bisa dijadikan rumah bagiku. Tempat ku berkeluh kesah, tempat ku mengadu, bahkan tempatku mencari pembelaan disaat semuanya tidak adil. 


Aku dan ibuku tidak mempunyai ikatan emosional sehingga tidak menyebabkan permasalahan, tetapi memang takdirnya harus berpisah karena jarak dengan ibuku, dan itu menjadikan ku sosok yang sangat haus akan kasih sayang dirumah. Dan untungnya ku ditakdirkan untuk merawat beliau sehingga kedekatan itu muncul dari situ serta akupun mulai merasa bahwa ia adalah ibu keduaku. 

Bersama beliau, aku tidak takut untuk bercerita apapun, aku selalu bercerita, bersenda gurau, hingga banyak hal lainnya seperti layaknya ibu dan anak. Tetapi seiring berjalannya waktu, beliau jatuh sakit dalam beberapa minggu hingga diharuskan dirawat dirumah sakit. Aku merasakan hancur sedih tak karuan karena takut akan kehilangan dirinya.

Setelah satu minggu lebih beliau dirawat dan dinyatakan sudah bisa pulang kerumah, aku merasa lega, tetapi takdir berkata lain, aku hanya dipertemukan dengan beliau selama 16 jam sebelum beliau meninggalkan dunia ini, selama waktu tersebut berjalan aku hanya berdoa sepenuhnya untuk meminta kesembuhan beliau.

Hingga tepat jam 7 pagi, beliau menghembuskan nafas terakhirnya dihadapanku.. dunia serasa seperti tidak berpihak kepadaku. Aku berfikir sangat membenci takdir ini, mengapa harus beliau?   

Namun, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Aku belajar untuk mengikhlaskan kehilangan ini, dengan diiringi hari-hari yang berat. Mulai dari merasa sepi dirumah, tak ada yang selalu berteriak memanggil-manggil namaku, tak ada lagi yang selalu mengajakku membuat roti didapur serta yang paling berat bagiku adalah, saat berbagi cerita bersama beliau. Semuanya terasa sangat berat bagiku untuk menjalani-nya. 

Namun seiring berjalannya waktu aku mulai bisa menerima keadaan ini dan mulai berdamai. Meski raganya tiada, cintanya akan tetap hidup dan menjadi bagian dari diriku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A little bit of me

Bukan Hanya Teman, Tapi Keluarga